WWF Latih Masyarakat Aceh Tengah, Untuk Tangani Konflik Manusia-Gajah

465
Syamsuardi, Koordinator Mitigasi Konflik Gajah dan Harimau World Wide Fund (WWF) Indonesia, pemeteri pada pelatihan “Teknik Mitigasi Konflik Gajah dan Manusia Berbasis Masyarakat” di Desa Karang Ampar, Ketol, Aceh Tengah. (Aulia Ferizal/ WWF-ID)

Acehraya.co.id – Aksi penyelamatan terhadap keberadaan Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) di Propinsi Aceh yang kondisinya semakin memprihatinkan terus diupayakan oleh berbagai pihak. Salah satunya melalui pelatihan “Teknik Mitigasi Konflik Gajah dan Manusia Berbasis Masyarakat” yang diprakasai oleh WWF Indonesia Northern Sumatra Program kepada lembaga pemerintahan, masyarakat, serta aparat penegak hukum seperti yang diselenggarakan di dua Kabupaten di Aceh pada 26-27 Maret 2016 di Tangse, Pidie dan 29-30 Maret 2016 di Desa Karang Ampar, Ketol, Aceh Tengah.

Dalam kesempatan ini, salah satu narasumber yang dihadirkan yakni Koordinator Mitigasi Konflik Gajah dan Harimau World Wide Fund (WWF) Indonesia , Syamsuardi, menerangkan kepada peserta pelatihan jika manusia dan gajah serikali salah bereaksi pada saat keduanya bertemu sehingga memicu terjadinya konflik.

“Respon yang ditunjukkan manusia dan gajah pada saat bertemu seringkali salah, sehingga keduanya sama-sama menimbulkan reaksi yang memicu konflik karena adanya misunderstanding. Kita harus mampu mengenali dan memahami perilaku gajah sehingga mitigasi konflik gajah dan manusia bisa dilakukan,” kata Syamsuardi saat berbincang, Rabu (30/3).

Syamsuardi menjelaskan, sebagian besar manusia yang hidup dan bekerja di kawasan koridor gajah belum memahami dan mengenal secara betul bagaimana perilaku gajah saat bertemu dengan mereka. Menurutnya, hal ini harus diketahui sehingga respon yang ditunjukan tepat dan bisa berkomunikasi dengan baik satu sama lainnya.

“Pada saat gajah bertemu manusia, gajah tidak akan langsung menyerang. Dia akan diam dan mengobservasi. Ciri-ciri dia sedang mengobservasi orang didepannya yakni kupingnya agak tegak berdiri. Nah pada saat ini, manusia harus diam, jangan lari ataupun berteriak. Makanya, pengetahuan ini diperlukan,” ujar Syamsuardi.

Syamsuardi pun mengapreasiasi berbagai pihak yang selama ini sudah ikut membantu dalam penyelesaian konflik gajah dan manusia yang terjadi dibeberapa desa di Aceh. Dia berharap, lembaga pemerintahan, aparat penegak hukum serta masyarakat yang sudah mengikuti pelatihan dapat terus berbagi pengetahuan dan informasi kepada yang lainnya.

“Kegiatan ini positif dan baik. Semoga ilmu yang sudah kita berikan bisa terus dilanjutkan. Tidak hanya kepada peserta pelatihan, tapi kami harapkan dapat diteruskan kepada semua orang yang tinggal di dekat wilayah habitat gajah. Agar mereka tahu bagaimana penanganan konflik gajah yang sebenarnya,” ungkapnya.

Kordinator Flying Squad Tesso Nilo WWF-Indonesia, Ruswanto mengatakan perambahan menjadi persoalan pelik dibeberapa wilayah di Sumatera termasuk di Provinsi Aceh. Gajah semakin sempit ruang geraknya karena itu masuk hingga ke perkampungan.

“Antisipasinya bukan dengan membunuh gajah jika sudah mendekati lahan warga, melainkan menggiring gajah, misalnya dengan meriam karbit untuk menghasilkan suara bising,” tuturnya.

Baginya, cara itu jadi jalan tengah mengurangi risiko kerugian akibat lahan perkebunan dirusak gajah sekaligus mempertahankan eksistensi subspesies gajah Asia ini.

Menurut Ruswanto, gajah merupakan makluk sosial, sehingga jika terpisah dari kelompoknya, mereka akan tersiksa. Gajah sumatera bukan species gajah dengan ukuran tubuh paling besar, namun diketahui memiliki kecerdasan di atas “sepupunya”, gajah Afrika.

Karena itu, lanjutnya, indikasi keterancaman gajah semakin besar kerena keterbatasan habitat. Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) saat ini terfragmentasi di sembilan kantong saja, sehingga populasi tersekat.

Lintasan yang sudah dilewati sejak nenek moyang para gajah liar tersebut tidak akan berubah, hanya bergeser ke kiri atau kanan. ”Dengan demikian, konflik pasti terjadi setiap gajah melintas. Yang bisa dilakukan, menekan kerugian,” ucapnya.

Upaya mengurangi konflik manusia dan gajah itu sangatlah beresiko, dan harus dilakukan secara berkelanjutan. Menurut Ruswanto, ketidakberhasilan suatu tehnik bukan kelemahan tehnik tersebut, tapi seringkali kesalahan dalam penerapannya.

Untuk itu diperlukan inovasi dalam berbagai teknik mitigasi konflik manusia-gajah. “Penyediaan kawasan lindung untuk habitat gajah yang diikuti dengan pengelolaan kawasan penyanganya merupakan solusi dari akar permasalahan konflik manusia dan gajah,” tutup Ruswanto. [af]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY