Cut Ervida diana : Mulai Dari Panggilan Hati, Film Dokumenter sampai Kampanye Diet Kantong Plastik

469
Cut Ervida Diana (Dok. Pribadi)

Pepatah mengatakan, “what goes around comes around”. Ketidakpedulian kita terhadap lingkungan pada satu waktu pasti membuahkan petaka. Contoh paling dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah pemakaian kantong plastik secara berlebihan.

Sejak pertama kali muncul pada era 1960-an hingga sekarang, kantong plastik kerap menjadi pilihan utama untuk membawa barang, terutama barang belanjaan dari toko ke rumah. Alasannya? Praktis. Namun, sadarkah kita bahwa di samping kepraktisannya, kantong plastik ternyata menimbulkan berbagai dampak negatif bagi lingkungan?

Kampanyekan Aksi Peduli Lingkungan Dengan Melawan Sampah Kantong Plastik 

Sejak awal, proses pembuatan kantong plastik sudah merugikan karena menyita energi dan mencemari udara. Selanjutnya, plastik yang sudah tak terpakai akan menjadi sampah yang menyebabkan banyak masalah. Plastik membutuhkan waktu sekitar 1000 tahun untuk terurai. Saat proses penguraian tersebut, plastik mencemari tanah dan air sekaligus.

Racun masuk ke dalam rantai makanan sehingga menyebabkan kerusakan ekosistem, utamanya di sungai dan laut. Bagi manusia, dampak negatif kantong plastik terjadi saat kantong plastik bersentuhan dengan makanan atau dibakar. Pencemaran yang masuk lewat apa yang kita konsumsi menyebabkan kesehatan menurun, sedangkan racun yang berasal dari hasil bakaran kantong plastik mengganggu pernapasan.

Itulah sederet fakta-fakta yang membuat Cut Ervida Diana (25 tahun) seorang perempuan Aktivis lingkungan asal Pidie yang berdomisili di Banda Aceh, akhirnya memutuskan untuk berkampanye mengurangi penggunaan kantong plastik bersama gerakan Earth Hour Aceh (Earth Hour adalah kegiatan global yang diadakan oleh World Wide Fund for Nature (WWF) untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya tindakan serius menghadapi perubahan iklim – Wikipedia) dan ASEAN Reusable Bag Campaign (Sebuah program gerakan peduli lingkungan yang berkosentrasi terhadap pengurangan penggunaan kantong plastik di negara ASEAN – ARBC) mulai dari tahun 2014.

Cut Ervida mengakut sangat menikmati dengan tugas yang diembannya selama 2 tahun terakhir sebagai salah satu agent of change dalam proses pelestarian lingkungan, khususnya yang berfokus dalam membangun kesadaran masyarakat untuk hidup ramah lingkungan dengan program “Diet Kantong Plastik” di Provinsi Aceh.

I am OK with that, aku orangnya sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan. Jadi tidak ada masalah kalau harus panas-panasan untuk masuk ke pasar-pasar, jalanan atau tempat-tempat yang banyak orang gunakan kantong plastik,” ujar lulusan FKIP Bahasa Inggris Unsyiah dan Fakultas Syariah UIN Ar Raniry ini.

Bagi Cut Ervida, segala yang ia lakukan untuk lingkungan sebenarnya bukan hal luar biasa dan juga bisa dilakukan banyak orang jika mereka semua mau berpikir tentang kehidupan berkelanjutan. Karena melestarikan alam dan lingkungan, menurut dia, adalah merawat dan mencintai kehidupan.

“Alam akan tetap ada walaupun tanpa manusia, tetapi manusia tidak bisa hidup tanpa ada,” tutupnya.

Baca Selengkapnya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY