Dara Peukan Bada, Menjalani Ibadah Puasa Selama Musim Kemarau di Turki

529
Nyakti Mardalena, mahasiswa Ilmu Sosiologi, di Universitas Istanbul Turki

Banda Aceh – Ramadan selalu memberikan warna tersendiri bagi setiap muslim di berbagai wilayah belahan di Dunia. Saat melaksanakan ibadah puasa. Mulai dari durasi berbuka, suasana puasa, hingga shalat tarawih.

Seperti Halnya dirasakan Nyakti Mardalena, dara Aceh yang kini sedang menempuh pendidikan Strata satu (S1) Ilmu Sosiologi, di Universitas Istanbul Turki.

Nyakti merasakan hal unik saat menjalani ibadah puasa di Turki, yaitu saat memasuki musim kemarau. Katanya, orang Turki waktu berbuka puasa, mereka lebih memilih melaksanakan berbuka puasa dengan cara piknik ke taman baik bersama teman maupun keluarga.

“Hal unik di sini masyarakat sering piknik gitu di taman-taman untuk berbuka puasa, orang Turki kalau udah masuk musim panas itu senang banget sama piknik, makanya di sini tamannya banyak dan ada dimana-mana,” cerita Nyakti.

Kata Nyakti, di Turki mereka  menjalani ibadah puasa selama 17 jam. Waktu berbuka sekitar pukul 20.30 dan Imsak pukul 3.30. Hari pertama puasa, Negara pimpinan Erdogan ini diwarnai dengan buka bersama di setiap masjid. “Hal unik lainnya di sini kalau hari pertama puasa semua masjid ngadain buka bersama,” tuturnya pada mediaaceh.co, Rabu 8 Juni 2016.

Wanita kelahiran Peukan Bada, Aceh Besar ini mengaku,  ini adalah yang kedua kalinya ia merasakan puasa di Turki. Pada tahun pertama ia sempat merasa takut saat menjalani puasa. Karena belum terbiasa dengan makanan dan suasana di sana.

Namun setelah menjalaninya Nyakti merasakan puasa di sana ternyata biasa saja. Dan ia mampu melewati durasi waktu berbuka hingga 17 jam.

“Waktu tahun pertama Nyakti merasakan puasa di sini sempat takut-takut, Nyakti mikir kira-kira bisa ga ya.  bakalan sakit ngak ya, karena kan durasi nya yang cukup lama, makanan yang tidak bervariasi. Tetapi Alhamdulillah ternyata biasa aja. Dan kita juga sering buk bersama piknik-piknik gitu bersama anak Indonesia lainnya yang kuliah di sini,” tutur Nyakti.

Selain itu kata Nyakti, di Turki salat tarawih bagi perempuan dan laki-laki itu tidak sama. laki-laki  melaksanakan salat tarawih di masjid. Sedangkan bagi perempuan salatnya di rumah. Soal rakaat di Turki Nyakti melihat masyarakat mengerjakannya rata-rata 20 rakaat.

“Selama di sini Nyakti belum pernah liat ada yg beda.”

Turki sedang memasuki masa kemarau masyarakat di sini merasakan cuaca yang cukup panas.“Kerasa banget sih puasa di sini karena musim panas,” sebut Nyakti.

Namun demikian, saat ini Nyakti harus menjalani ibadah puasa ditengah ujian final semester dua. Kata Nyakti, walaupun sedang final dan cuaca panas gini. Nyakti tetap berjuang kuat menjalani ibadah puasa dan menempuh pendidikan.

Nyakti merupakan mahasiswi semester dua di Istanbul University, sebelumnya ia pernah menjadi mahasiswi prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Ar Raniry Banda Aceh. Pada tahun 2014 lalu ia lulus beasiswa kuliah di Turki dan masuk kelas bahasa. Dan melakukan aktifitas kuliah sejak 2015. [sumber : mediaaceh.co]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY