Masih Tinggi Perdagangan Hiu Di Indonesia

1675
Puluhan sirip hiu hasil tangakapan nelayan di Lampulo (Azhar/ Aceh Indie Photo)

Oleh Azhar (Aceh Indie Photo), Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan, TGK Chik Pante Kulu, Darussalam, Banda Aceh

Ikan hiu memiliki nilai ekonomis tinggi. Mungkin itulah sebabnya mengapa terus diburu untuk di konsumsi. Ikan ini diambil siripnya yang merupakan bagian utama dari eksploitasi dengan harga termahal dan potongan tubuh lainnya seperti daging, kulit, minyak hati dan tulang rawannya untuk obat tradisional china. Permintaan pasar akan sirip hiu terbesar berasal dari Asia, beberapa kota besar Indonesia seperti Jakarta, Surabaya dan Makasar menjadi muara perdagangan sirip hiu, baik itu untuk konsumsi restoran dan di jual keberbagai negara seperti China, Hongkong dan Taiwan. Hal ini kemudian menjadi pendorong atas penangkapan ikan secara berlebihan yang mengakibatkan penurunan populasi hiu di alam liar.

Saat ini, diyakini populasi ikan hiu secara global mengalami penurunan drastis akibat penangkapan berlebihan untuk diambil siripnya dan untuk dikonsumsi Kebutuhan hiu di dunia berkisar antara 721.001 ton pertahun. Indonesia berada diurutan pertama dari tiga besar negara pemasok hiu di dunia dengan hasil tangkapann hiu berjumlah 88,790 ton/tahun 12.31 persen. Diposisi kedua India dengan jumlah tangkapan hiu berjumlah 79,193 ton/tahun 10.98 persen dan diposisi ketiga Spanyol dengan nilai tangkapan hiu berjumlah 62,157 ton/th 8.62 persen diperkirakan sebanyak 100 juta ikan hiu ditangkap, sebagian besar hanya diambil siripnya saja. (KKJI, 2014).

Ikan hiu dikategorikan sebagai sangat terancam langka (critically endangered). 5 jenis yang termasuk terancam langka (endangered), 23 jenis yang termasuk kategori rawan punah (vulnerable), serta 35 jenis hiu yang termasuk dalam kategori hampir terancam (near threatened) (Fahmi dan Dharmadi, 2013). Perairan laut Indonesia terdapat 117 jenis hiu dan yang dilindungi baru empat jenis hiu diantaranya; Pertama hiu paus (Rhincodontypus) status ikan dilindungi penuh berdasarkan Kepmen KP No. 18/2013. Kedua hiu martil (Sphyrna spp.). Ketiga hiu koboi (Carcharhinus longimanus) dengan statuslarangan eksport berdasarkan Permen KP No. 34/2015.keempathiu martil. Dan kelima adalah hiu gergaji (Pristismicrodon) dengan status PP No.7/99 Status Perlindungan Penuh.

Eksploitasi hiu di Indonesia pada umumnya dilakukan di daerah potensial pelepasan anakan hiu (nursery ground), yaitu di kawasan terumbu karang, di perairan pantai yang dangkal, atau wilayah estuari di mana perairan tersebut merupakan tempat mencari makan (feeding ground). Hal ini dapat menyebabkan terjadinya penurunan populasi hiu secara cepat dan memerlukan waktu lama untuk pulih kembali.Potensi dan kepentingan ekonomi adalah ancaman utama menuju pada penangkapan berlebihan (over eksploitasi), Penangkapan anakan, By-Catch pengoperasian gillnet dan rawai dan cara-cara penangkapan ikan hiu dianggap sadis karena hanya memanen hiu dengan mengambil sirip hiu.

Ikan hiu merupakan jenis predator yang hidup diperairan lepas pantai dan terdapat beberapa jenis hiu yang hidup disekitar terumbu karang. Ikan predator ini berada pada tingkat atas rantai makanan yangsangat menentukan dan mengontrol keseimbangan jaring makanan yang komplek.

Disamping siripnya, semua bagian dari tubuh hiu mempunyai nilai ekonomi dan menjadi mata pencaharian utama masyarakat pesisir. Beberapa bagian tubuh hiu yang bernilai rendah, dipasarkan dan dikonsumsi lokal.Kisaran harga sirip hiu martil dan koboi dengan panjang 40 cm dengan berat 1 kg dijual dengan harga Rp 2 juta. Bila panjang lebih dari 40 cm dan memiliki berat mencapai 2 kg, maka harga lebih dari Rp 2 juta. Di tingkat pengepul ke eksportir, harga rata-rata harga sirip dua jenis hiu ini bisa menjadi Rp 4 juta/kg(WWF, 2015).

Hiu masih dikonsumsi oleh masyarakat terutama dikaitkan dengan adat dan sosial budaya, salah satunya adalah untuk sajian makanan yakni sup sirip hiu, sup ini berawal dari dinasti Ming(1368-1644).Sup sirip hiu biasanya disajikan pada acara khusus seperti pernikahan atau perjamuan atau sebagai barang mewah dalam budayaTiongkok (Keith Bradser, 2005).

Budaya Tionghoa telah meyakini sirip hiu yang disangka memiliki kemampuan meningkatkan potensi seksual, kualitas kulit, meningkatkan energi chi, mencegah serangan jantung, dan mengurangi kolesterol. (Woo, Joyce, 2010), Juga dipercaya berdasarkan buku pengobatan tradisional Tiongkok kuno bahwa sirip hiu memiliki efek awet muda, meningkatkan nafsu makan, memperkaya darah, meningkatkan level energi, memelihara ginjal, paru-paru, tulang, dan bagian tubuh lainnya. (FAO,2002).

ANTISIPASI DEMAND SIRIP HIU DAN PRODUKNYA

Beberapa keberhasilan multi pihak dalam menekan perdangan hiu adalah terdapat 31 Maskapai penerbangan yang menolak mengangkut hiu dan produknya diantaranya Virgin Atlantic Airways (2011),Garuda Indonesia (2013),American Airlines (2015) dan lima perusahaan cargo laut diantaranya Mediterranean Shipping Company (MSC), Evergreen Shipping Line dan Maersk (BPSPL Denpasar, 2016).

Beberapa hotel besar di luar negeri seperti The Peninsula Hotels dan Shangri-La Hotels dan Resorts berhenti menyajikan sup sirip hiu dan beralih ke boga bahari yang lebih berkelanjutan. Tiga supermarket besar, yaitu Cold Storage, NTUC Fair Price dan Carrefour juga telah berhenti menjual sirip hiu dengan alasan yang sama. Hong Kong Disneyland mencabut menu sirip hiu karena tidak menemukan sumber sirip yang bersifat berkelanjutan. Universitas Hong Kong melarang penyajian sup sirip hiu dan berharap bahwa hal ini memicu pihak lain untuk melakukan hal yang sama (id wikipidia.org).Ini merupakan salah satu pemutusan mata rantai supply demand dari permintaan hiu dilingkup global.

Walau aksi penyelundupan sirip hiu pun masih marak, tapi usaha penegakan hukum masih terus berjalan. Baru-baru ini pihak bea cukai Tanjung Perak berhasil menangkap aksi penyelundupan sirip hiu martil yang dilindungi berjumlah 20 ton taksiran uang berjumlah 400 juta rupiah dengan tujuan penyelundupan hongkong. Modus operandi pemalsuan dokumen eksport perut ikan beku(bisnis.liputan6.com.2016). Petugas karantina ikan Bandara Soekarno-Hatta menggagalkan upaya penyelundupan ribuan sirip ikan hiu jenis koboi yang bakal dikirim ke Hong Kong senilai Rp 1,9 miliar Ribuan sirip ikan koboi ini dikemas dalam 74 koli yang dicampur dengan sirip ikan pari dan ikan hiu jenis lain, terdapat 42 karton seberat 999 kilogram berisi sirip ikan pari kering jenis Liong Bun (Rhina ancylostoma) dan 31 karton seberat 967 kilogram sirip ikan hiu Lanjaman (Carcharhinus amblyrhynchoides). (m.tempo.co.2015)

Kebijakan pengelolaan hiu di Indonesia harus denganregulasi khusus yang diantaranya mengatur mengenai ukuran tangkap, ketentuan perlakuan sirip hiu, habitat dan jenis spesies yang perlu dilindungi dan spesies-spesies tertentu yang perlu diatur pemanfaatannya. Hal ini juga sebagai upaya mendorong adanya perlindungan habitat penting untuk hiu (nursery ground, mating ground, feeding ground, lokasi pelepasan anakan hiu) sebagai bentuk dukungan terhadap kawasan konservasi perairan untuk hiu.

Dewasa ini, Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan menjawab tantangan perdagangan hiu dengan isu ketelusuran (traceability), ketelusuran produk dari pelabuhan pendaratan hingga mekanisme perizinan menjadi satu rangkaian yang perlu diketahui informasinya dengan jelas, kapasitas tenaga karatina dalam identifikasi jenis hiu olahan yang diperdagangkan,dan pendistribusian produk olahan hiu lintas daerah yang banyak tidak tercatat merupakan beberapa tantangan dalam ketelusuran produk hiu.

Untuk mendukung sistem ketelusuran (traceability) produk baik untuk pasar ekspor dan domestik dengan kebijakan yang meliputi pengaturan pendaratan hiu berdasarkan wilayah tertentu (kabupaten/ provinsi atau berdasarkan pulau), mengembangkan sistem identifikasi hiu secara cepat dengan sistem labeling (pengadaan alat-alat untuk ketelusuran jenis hiu), mengidentifikasi dan menentukan pelabuhan laut dan udara sebagai pusat keluar masuk perdagangan hiu untuk mendukung sistem pengendalian, monitoring dan pengawasan perdagangan hiu di Indonesia.

Selain itu, juga perlu memperkuat SOP (Standar Operasional Prosedur) di beberapa pihak di tingkat daerah untuk menghindari praktek kecurangan di lapangan dengan membuat Standar Operasional Prosedur (Sop) untuk perlindungan hiu, diantaranya; Pertama,Standar Operasional Prosedur (SOP) nomor 20/KP3K.2/III/2015 tentang Pemberian Surat Rekomendasi Hiu dan Sirip Hiu Utuh Yang Tidak Dilindungi oleh Peraturan Perundangan, tidak termasuk dalam daftar Appendik CITES dan tidak dilarang keluar wilayah NKRI, kedua, SOP Nomor 21/KP3K.2/III/2015, Pemberian Surat Rekomendasi Produk Olahan Hiu / Pari Yang Tidak Dilindungi oleh Peraturan Perundangan, tidak termasuk dalam daftar Appendik CITES dan tidak dilarang keluar, tiga SOP Nomor 22/KP3K.2/III/2015, Tata Cara pengambilan Sample Untuk Uji DNA Identifikasi Hiu.

Taktik lainnya dalam pemanfataan hiu adalah untuk aktivitas pariwisata. Usaha ini untuk mendorong adanya lokasi percontohan untuk pengembangan ekowisata hiu dan pari sebagai alternatif pemanfaatan hiu, terutama jenis pariwisata berbasis masyarakat dan berdasarkan daya dukung (carrying capacity) lingkungannya dan pengembangan panduan praktik ekowisata hiu yang bertanggung jawab. Perlu adanya informasi dan kajian terkait daya dukung ditiap lokasi wisata hiu dan pari, pengaturan wilayah dan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah untuk memastikan hal ini memberikan dampak kepada masyarakat setempat.

Bagi pelaku usaha dan masyarakat umum perlu juga menerapkan panduan wisata hiu dan pari, serta bagi nelayan untuk melakukan penanganan tangkapan sampingan (by-catch) terhadap ikan hiu. sangat perlu disosialisasikan pada beberapa lapisan yang memanfaatkan lokasi wisata hiu seperti nelayan, pelaku wisata dan pemerintah, dengan adanya pengelolaan lokasi wisata hiu, masyarakat juga bisa mendapatkan manfaat untuk saat ini dan di masa depan.

Hiu merupakan sumber daya perikanan yang memiliki nilai penting dari aspek ekologis dimana ikan hiu hidup liar dihabitat yang sangat luas dari perairan pantai dangkal, melintasi landasan kontinendan lereng hingga ke lautan dalam. Sebagai predator puncak dalam tingkat trofilk di laut,hiu sangat menentukan keseimbangan ekosistem dalam suatu kawasan perairan.

Ini semua untuk menjawab usaha perlindungan jenis ikan hiu terancam yang paling rentan punah, mempertahankan keanekaragaman jenis hiu, memelihara keseimbangan dan mempertahankan nilai konservasi agar hiu tidak punah di perairan laut Indonesia. Diharapkan dimasa yang akan datang, terutama pada tataran global Indonesia tidak lagi berada di posisi puncak perdagangan hiu.

Penulis

Azhar
Azhar

Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan, TGK, Chik Pantee Kulu, Darusalam, Banda Aceh

Pengamat Satwa Liar Indonesia

Jl. Kuwera 1 NO 21 Lamprit, Banda Aceh

HP :0812699239874

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY