Murid SD di Banda Aceh Peringati Hari Gajah Sedunia

423
Para peserta hari Gajah Sedunia sedang mendengarkan dongeng tentang gajah dari pendongeng (Acehinsight.com)

Acehraya.co.id – Peringati hari gajah sedunia, World Wide Foundation (WWF) mengajak anak-anak untuk mengenal satwa dilindungi itu, Jumat (12/8/2016). Seratusan anak-anak Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah dari berbagai sekolah di Banda Aceh mendengar dongeng tentang nasib Gajah Sumatera. Agenda ini digelar WWF Indonesia Northern Sumatra Program untuk memperingati Hari Gajah Sedunia (World Elephant Day) setiap 12 Agustus.

Sejak pukul 09.00 WIB, anak-anak berkumpul di bawah Museum Rumah Aceh. Selain mendengarkan dongeng, siswa-siswi ini juga diajak untuk mengenal gajah dan menggambar satwa dilindungi itu menurut imajinasi masing-masing dengan kertas yang disediakan panitia. Kemudian mereka diminta untuk menuliskan pesan-pesan terhadap gajah.

Communication Officer WWF Indonesia Northern Sumatra Program, Chik Rini menyebut selain menggambar bentuk gajah di kertas yang sudah disediakan, mereka juga diminta untuk menulis pesan-pesan tentang gajah di kertas gambar masing-masing.

“Ini dilakukan untuk menumbuhkan pengetahuan anak tentang kondisi gajah saat ini yang sudah terancam punah. Mereka juga menggambar, mengirim pesan-pesan untuk Gajah Sumatera,” kata Chik Rini di sela-sela acara.

“Saat ini gajah sudah sangat kritis. Setiap tahunnya di Aceh sekira lima hingga 10 ekor gajah mati, baik konflik dengan manusia maupun kasus perburuan,” kata Chik Rini, Jumat (12/8/2016). Selain WWF, kegiatan ini juga didukung oleh Gerakan Earth Hour dan Museum Aceh.

Chik Rini mengaku hingga kini nasib gajah masuk dalam kategori kritis. Bahkan tiap tahun di Aceh sekitar lima hingga 10 gajah mati di hutan.

Menurutnya ada banyak kasus pembunuhan antara gajah dan manusia, baik konflik dengan warga maupun perburuan. Oleh sebabnya, kegiatan ini diharap mampu merangsang anak untuk melakukan sesuatu di sama mendatang untuk perlindungan gajah dan satwa liar lainnya di alam liar.

Dongeng tersebut menceritakan tentang bagaimana kehidupan gajah di hutan. Setelah hutan terus ditebang secara liar, lingkup gajah semakin kecih sehingga masuk ke pemukiman warga. Selain itu saat tsunami 2004 silam, gajah menjadi penolong evakuasi saat bencana dahsyat itu.

“Kita harapkan nanti saat anak-anak ini tumbuh dewasa dan saat menjadi pemegang kepentingan, mereka bisa melindungi gajah dan satwa-satwa liar lainnya di hutan,” imbuhnya.

Sementara itu, Kurator Museum Aceh, Afni, mengatakan bahwa pihak museum ikut mendukung dalam rangka memperingati hari gajah sedunia (World Elphant Day) dengan mengkolaborasikan agenda bersama pihak WWF.

“Mulai tahun 2016, Museum Aceh ada program yang namanya Museum Edukasi. Jadi Museum edukasi itu ialah mendatangkan anak-anak dari berbagai sekolah untuk berbagi apa saja tentang Museum. Tepat pada hari gajah sedunia ini, kita bersama WWF berkolaborasi untuk mengangkat satu tema besar yaitu Aceh Bangga Punya Gajah,” ujarnya.

Menurut Afni, meskipun kegiatan menggambar sudah pernah dilakukan beberapa kali oleh pihak Museum Aceh, seperti menggambar di kaos, namun menggambar untuk interpretasi yang penting seperti menggambar tentang satwa-satwa langka di Aceh, baru pertama kali dilakukan oleh pihaknya.

“Ini untuk pertama kalinya bagus ya. Setelah gajah, kita pihak Museum Aceh mau lanjutin lagi dengan tema yang sama atau satwa-langka lain seperti Harimau, Badak, Orangutan atau satwa-satwa langka lainnya,” lanjutnya.

Bertambahnya peserta yang ikut dalam agenda terkait hari Gajah Sedunia ini, lanjutnya, juga membuat panitia sedikit kerepotan. Karena pihak Museum Aceh hanya mengundang sekitar 40 anak untuk peserta. “Awalnya target kita hanya 50 anak yang ikut. Tapi hari ini yang datang hampir 100 anak dari beberapa sekolah di Banda Aceh dan itu tanpa konfirmasi,” kata Afni, seraya mengaku terkejut.

“Harapannya, hubungan yang sudah terjalin antara pihak Museum Aceh dengan berbagai pihak seperti sekolah-sekolah, anak-anak, komunitas serta lembaga tetap berlanjut. Kedepan, Museum Aceh akan ada program-program lain, terus dan tidak terputus. Apapun misinya, tetap berikan edukasi untuk anak-anak Aceh,” ujar Afni, Kurator Museum Aceh. [Acehinsight.com]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY