Pemerintah Belanda Dukung Program Konservasi Di Aceh

292
Dede Suhendra, Program Manager WWF-Indonesia Program Sumatera Bagian Utara, saat Peresmian program Shared Resource Joint Solutions (SRJS), Rabu (18/1/2017) di Ballroom Hotel Grand Nanggroe Banda Aceh.

Acehraya.co.id – Kementerian Luar Negeri Belanda berkolaborasi dengan International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan WWF Belanda memberikan dukungan dana untuk program koservasi hutan alam dan mangrove di tiga kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) terbesar di Aceh yakni Peusangan, Jambo Aye, dan Tamiang (PJT).

Peresmian program Shared Resource Joint Solutions (SRJS) dilakukan di Banda Aceh, Rabu (18/1/2017) oleh Sekda Aceh yang diwakili oleh Staf Ahli Gubernur Anwar Ishak dihadiri oleh institusi pemerintahan, anggota dewan perwakilan rakyat, LSM dan tokoh masyarakat dari wilayah Peusangan, Jambo Aye dan Tamiang.

Program yang bernama SRJS ini secara jangka panjang bertujuan untuk memastikan fungsi ekosistem tetap terjaga, untuk menjamin ketersediaan air bersih, ketahanan pangan, ketahanan iklam dan kelestarian keanekaragaman hayati.

“Di seluruh Pulau Sumatera, hanya Aceh yang masih lengkap memiliki spesies payung yang dilindungi, seperti Harimau Sumatera, Badak Sumatera, Gajah Sumatera dan Orangutan,” ujar Anwar Purwoto, Direktur Sumatera dan Kalimantan WWF-Indonesia.

Lanjut Anwar, “Oleh karena itu, Program ini sangat penting untuk menjaga kelangsungan hidup satwa tersebut dan dampaknya akan membawa kesehjateraan bagi masyarakat setempat, dengan tersedianya air bersih dan udara bersih, juga mendukung ketahanan pangan,”.

Selain Aceh, program SRJS dilaksanakan juga di Lensekap Bulungna di Kalimantan Utara dan Yapen Waropen di Papua. Program ini akan berjalan selama empat tahun. Dilaksanakan oleh WWF-Indonesia berkolaborasi dengan Forum DAS Krueng Peusangan (FDKP) dan Balai Syura Ureung Inong Aceh (BSUIA).

Lansekap DAS Peusangan, Jambo Aye dan Tamiang (PJT) dipilih sebagai lokasi program karena wilayah padat penduduk (sebanyak 2,3 juta warga Aceh tinggal di lanskap yang luasnya mencapai 1,6 juta hektar) dan sangat cepat pertumbuhannya. Daerah ini merupakan pusat investasi, pengembangan pertanian, perkebunan dan infrastuktur.

“Sebagai pusat pertumbuhan di Aceh yang rentan dieksploitasi sumber daya alamnya, sangat penting untuk memastikan fungsi ekosistem tetap terlindungi dan terjaga sehingga ketersediaan air, keamanan pangan, ketahanan iklim dan kelestarian keanekaragaman hayati tetap terjaga dalam jangka panjang,” kata Program Manager WWF-Indonesia Program Sumatera Bagian Utara, Dede Suhendra.

Lansekap PJT kaya akan keanekaragaman hayati dan potensi sumber daya alam yang melimpah. Disini terdapat hutan mangrove terluas di Sumatera mencapai 23 ribu hektar. Juga ada Danau Laut Tawar yang merupakan danau terluas di Aceh. kawasan ini merupakan rumah bagi satwa-satwa langka yang saat ini terancam punah seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus), Harimau Sumatera (Panthera tigris), Badak Sumatera (Dicerorinus sumatranus) dan Orangutan (Pongo abelii).

Galeri Foto Launching Program SRJS di Banda Aceh

Program SRJS selama empat tahun akan melakukan penguatan kepada LSM lokal dan organisasi masyarakat sipil agar mereka bisa mengambil peran untuk advokasi pemerintah dan sektor bisnis untuk melakukan praktik-praktik yang memperhatikan kelestarian lingkungan. Program ini juga mendorong pengelolaan hutan secara kolaboratif dan berkelanjutan dengan mengedapnkan kearifan lokal, partisipasi publik, dan kesetaraan gender.

“Program SRJS di Aceh memberikan perhatian khusus pada pelibatan laki-laki dan perempuan secara seimbang. Program ini juga melibatkan kelompok rentan yakni warga yang terpinggirkan secara ekonomi,” kata Dede Suhendra.

Dalam implementasinya, program SRJS Aceh fokus pada lima strategi, yaitu mendorong adanya pengelolaan hutan yang lestari sehingga mampu mempertahankan luas hutan alam dan mangrove yang ada saat ini; mendorong perusahaan perkebunan kelapa sawit dan Hutan Tanaman Industri mengelola Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF) di areal konsesinya dengan mempraktikkan cara yang lebih bertanggung jawab; mendorong perlindungan sungai dengan pengelolaan kegiatan tambang yang tidak merusak; mendorong pencegahan dan penegakkan hukum terhadap kejahatan lingkungan; serta memastikan tersambungnya kembali jalur lintasan satwa yang terputus di luar kawasan hutan. []

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY