Diego Garcia, Pulau Misterius Asal Pesawat Militer AS Yang Mendarat Di Aceh

416
Pesawat Militer AS Mendarat di Aceh (IG @mahmudy)

Acehraya.co.id – Adakah yang pernah mendengar nama Diego Garcia? Ya, Diego Garcia merupakan pulau di tengah Samudera Hindia.

Nama Pulau Diego Garcia muncul saat pesawat militer Amerika Serikat (AS) mendarat darurat di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh, pada Jumat (24/3) kemarin. Rute pesawat itu awalnya bertujuan ke Jepang.

“pesawat jenis boeing 707 mengalami kerusakan mesin di mesin nomor 4 sehingga mendarat darurat di Aceh. Pasukannya dengan crew jumlahnya 20 orang,” kata Kadispen TNI AU Marsma Jemi Trisonjaya.

Namun, dia mengaku belum mengetahui penerbangan pesawat militer AS dalam misi operasi atau agenda lainnya. “Untuk rencana kegiatannya kita tidak tahu,” tuturnya.

Pesawat Militer AS Mendarat di Aceh (IG @mahmudy)

Pesawat militer AS yang dipiloti oleh Joshua Bosworth tersebut mendarat darurat di Bandara SIN karena satu mesinnya tiba-tiba terbakar, Jumat (24/3) siang. Mereka sempat meminta izin mendarat di rumput bandara namun akhirnya landing di runaway.

Sejumlah mobil kebakaran dikerahkan ke lokasi dan satu per satu kru dievakuasi dari dalam pesawat. Pendaratan darurat ini tidak mengganggu jadwal perjalanan lain karena saat kejadian, Bandara SIM tengah sepi penerbangan.

Misteri Diego Garcia

Jika dilihat dari Google Earth, pulau itu terlihat seperti tapal kuda yang mengitari lautan di sekitarnya. Terlihat juga keterangan adanya pangkalan militer Diego Garcia di pulau itu.

Pulau Diego Garcia dilihat dari Google Earth Foto: Google Earth

Berdasarkan data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, pulau Diego Garcia berbentuk tapal kuda serta memiliki iklim tropis dengan hutan lebat dan pantai berpasir putih.

Pulau ini terletak di lokasi yang strategis antara Afrika Timur, Timur Tengah, dan Asia Tenggara, membuatnya menjadi aset penting untuk memasok pasukan angkatan laut dan kekuatan udara ke Asia serta Timur Tengah. Pulau ini merupakan teritori Inggris yang disewakan kepada Amerika Serikat (AS) pada perang dingin untuk keperluan pangkalan militer terutama angkatan laut.

Untuk membuat jalan bagi pangkalan militer, sekitar 2.000 pribumi diusir secara paksa dari pulau oleh pemerintah Inggris antara 1968 dan 1973. Para penduduk pulau telah lama menggugat haknya untuk kembali ke asal mereka.

Diperkirakan pada 2014 sekitar 3.000-5.000 personel militer dan sipil tinggal di Diego Garcia, kebanyakan dari mereka merupakan militer Amerika dan Inggris. Pulau ini sempat digunakan sebagai landasan untuk misi pengeboman Irak selama Perang Teluk pertama pada tahun 1991, perang di Afghanistan pada 2001 dan Irak tahun 2003.

Kontrak 50 tahun Amerika terhadap Diego Garcia disebut berakhir pada tahun 2016 silam, namun tak ada kejelasan apakah kontrak itu diperpanjang atau tidak. Telah lama suasana misteri menyelimuti Diego Garcia dan sekitarnya.

Misteri itu sebagian karena akses ke pulau ini sangat dibatasi. Ada rumor bahwa kamp penjara AS terdapat di pulau itu selama lebih dari satu dekade, tetapi Washington telah berulang kali menjamin tidak ada penjara tersebut.

Dari data yang dirilis CIA pada 2005 disebutkan dalam sebuah konferensi pers pada 28 Agustus 1974, Presiden Ford menanggapi pertanyaan tentang perkembangan Diego Garcia, menyatakan bahwa dia menyukai ekspansi terbatas terhadap pangkalan tersebut. Dia menambahkan bahwa Soviet kala itu sudah memiliki tiga basis operasi angkatan laut utama di Samudera Hindia.

Lebih lanjut dalam data CIA tersebut dikatakan kalau AS memiliki kepentingan yang sangat penting di Samudera India. “Kita tidak boleh ragu untuk mengirim gugus tugas angkatan laut ke Samudera (Hindia) dari waktu ke waktu untuk mendukung kepentingan itu,” tulis dokumen itu.

Secara bijak disebut bahwa untuk mendukung kepentingan nasional di wilayah itu dapat dilakukan dengan cara mengembangkan dan menyebarkan kekuatan militer yang kredibel. Diego Garcia dipercaya dapat mencapai tujuan tersebut, tanpa itu dibatasinya kemampuan angkatan laut untuk beroperasi secara efektif di Samudera Hindia secara jelas menempatkan AS pada posisi yang kurang diuntungkan dan bukan untuk kepentingan nasional. []

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY