Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja Lepaskan 167 Bayi Penyu Ke Laut

131
167 tukik jenis Penyu lekang dan Penyu belimbing dilepaskan oleh Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja dan WWF Indonesia Northern Sumatra Program, pada Senin, 3 Maret 2017 di Pantai Keude Panga, Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya. (Aceh Insight/Aulia Ferizal)

Acehraya.co.id – 167 tukik jenis Penyu lekang dan Penyu belimbing kembali dilepaskan di Pantai Keude Panga, Kecamatan Panga, Kabupaten Aceh Jaya pada Senin, 3 April 2017.

Kegiatan tersebut diinisiasi Tim Konservasi Aroen Meubanja yang dihadiri WWF Indonesia Northern Sumatra Program, perwakilan Koramil Panga, Universitas Teuku Umar, UIN Ar-Raniry, DKP Aceh Jaya, Panglima Laot Panga, Komunitas Relawan Konservasi Aceh, kelompok perempuan dan anak-anak di Kecamatan Panga.

Menurut Marine Fisheries Policy WWF Indonesia Northern Sumatera Program, Dewi Nopita Sari, dari 167 tukik Penyu yang dilepaskan, 137 tukik diantaranya jenis Penyu lekang dan 30 tukik jenis penyu belimbing. WWF turut mendukung kegiatan Konservasi Penyu Aroe Meubanja melalui peningkatan kapasitas tim, terkait pendataan dan monitoring Penyu di kawasan pengelolaan Penyu di Panga.

Kegiatan tersebut dilaksanakan bertujuan untuk melestarikan Penyu dan mengampanyekan kepada publik, bahwa Penyu merupakan satwa langka yang harus dilindungi semua pihak.

Ditempat yang sama, Ketua Tim Konservasi Penyu Aroen Meubanja, Muniardi atau yang akrab disapa Dedi Penyu, sedikit bercerita bahwa pada masa lalu, di sepanjang garis pantai Panga, Aceh Jaya, terdapat bermacam jenis penyu yang kerap naik ke darat buat bertelur.

“Dari tujuh penyu yang ada di dunia, enam diantaranya pernah mendarat untuk bertelur di sepanjang pantai Panga, Aceh Jaya,” kenangnya.

Namun Dedi menyadari, akibat terjadi perburuan besar-besaran, hewan itu nyaris punah saat ini. “Kita harus bersyukur, dari tujuh jenis penyu didunia, enam diantaranya ada di Indonesia. Jadi sudah saatnya kita berkontribusi untuk menyelamatkan spesies ini, agar tidak punah,” sebut Dedi penyu.

Sampai saat ini pihaknya telah melakukan upaya perlindungan terhadap penyu dari tahun 2012 hingga tahun 2016 sebanyak 28 sarang dari berbagai indukan.

“Yang sudah menetas tiga sarang, inilah yang kita lakukan pelepasan hari ini, tujuh sarang lagi sedang kita awasi dan kita pantau proses pengetasannya. Alhamdulillah tahun ini kita mampu lindungi sepuluh sarang,” tandas Muniardi.

Lebih lanjut Dedi menjelaskan, untuk jenis penyu belimbing (Dermochelys Coriacea) paling besar yang pernah mendarat di pantai Panga, bobotnya bisa mencapai 800 Kilogram sedangkan untuk jenis penyu lekang (Lepidochelys Olivacea) sekitar 35-45 Kilogram.

“Penyu-penyu tersebut naik ke permukaan pantai Indonesia untuk bertelur, sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai belahan dunia. Penyu bisa bermigrasi ke Australia, New Zealand, Philiphina bahkan sampai California,” kata Dedi.

Seperti diketahui sebelumnya, pada Minggu, 26 Maret 2017, ditempat yang sama pihak Tim Konservasi Penyu Aroen Meubaja bersama WWF Indonesia Northern Sumatra Program, juga melepaskan sebanyak 46 ekor anak penyu “tukik” yang dihadiri oleh Darwati A. Gani, Anggota DPRA Provinsi Aceh serta beberapa pecinta penyu lainnya.  [acehinsight.com]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY