Oktober, WWF Dan FKH Unsyiah Gelar International Wildlife Symposium Ke 4

304
Banner International Wildlife Symposium (IWS) ke 4 tahun 2017

Acehraya.co.id – Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala bersama World Wildlife Fund for Nature (WWF) Indonesia akan menggelar International Wildlife Symposium (IWS) ke 4, dengan tema “Promoting One Health Through Wildlife Conservation for People’s Prosperity”, pada 23 hingga 25 Oktober 2017, di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Aceh.

“Dibanding provinsi lain di pulau Sumatera, hanya provinsi Aceh yang memiliki 4 flagship spesies atau satwa kunci dalam satu wilayah yaitu Harimau, Gajah, Badak dan Orangutan Sumatera. Dan ini menjadi salah satu latar belakang digelarnya Internasional Wildlife Simposium (IWS) 2017 di Aceh,” ujar Azhar, Koordinator Spesies WWF Indonesia Northern Sumatra Program kepada acehinsight.com di kawasan Lamlagang, Banda Aceh.

Azhar, Koordinator WWF Indonesia Northern Sumatra Program

Menurut Azhar, dalam kegiatan International Wildlife Symposium (IWS) ke 4 ini akan mempertemukan berbagai stakeholder seperti pegiat konservasi, akademisi, pemerintah, sektor swasta dan publik. “Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan semua pandangan berbagai pihak yang berkecimpung pada isu-isu terkait satwa liar dan konservasi di provinsi Aceh khususnya,” ungkapnya sebagai salah satu penanggung jawab kegiatan IWS 2017.

Kegiatan simposium yang dilaksanakan selama tiga hari ini akan menampilkan beberapa pakar antara lain seperti Dr. Barney Long (Expert in Conservation of Threatened Species at Global Wildlife Conservation –United States of America), Khalid Pasha (Expert in Conservation Area Management Policy – WWF Tiger Alive, Singapore),  Dr. Fachruddin Mangunjaya (Specialized in Conservation, Cultrure and Religion – Universitas Nasional Jakarta, Indonesia), Christopher Stremme, DVM (Specialized in Wildlife Health and Conservation – Universitas Syiah Kuala, Indonesia) dan lainnya.

Kata Azhar, dikarenakan International Wildlife Symposium (IWS) merupakan ajang interaksi dan kerjasama antar peneliti baik di laboratorium dan di alam bebas, maka kegiatan ini lebih khusus ditujukan untuk peningkatan kapasitas peneliti di Indonesia atau Aceh khususnya, seperti mahasiswa, dosen, peneliti muda, mitra LSM konservasi serta praktisi dari berbagai lembaga.

“Simposium ini akan memberikan penigkatan fokus pemahaman dan langkah bagi biodiversitas Sumatera. Oleh karena itu selain tema besar “Promoting One Health Through Wildlife Conservation for People’s Prosperity” yang ditampilkan di IWS 2017, ada beberapa sub tema lain seperti health and medicine, policy and governance, sosial economic, conservation innovatioan dan wildlife ecology,” ujarnya.

Lebih lanjut Azhar menuturkan, untuk memenuhi standar simposium berskala Internasional, maka setiap peserta yang ingin mengikuti International Wildlife Symposium (IWS) 2017 harus memasukan (upload) Abstract dan Jurnal para peserta melalui situs http://wildlife.unsyiah.ac.id/ (diterima paling lambat tanggal 15 Juni 2017 atau lihat gambar).

“Pada kegiatan ini kita buat lebih spesifik. Selain adanya aturan untuk mengunggah karya sebagai bentuk apresiasi dan komitmen pada kegiatan International Wildlife Symposium (IWS), para peserta juga akan dikenakan sedikit biaya terkait pedaftaran dan hal itu dapat dilihat langsung melalui situs IWS 2017,” ucap Azhar.

Terkait unggahan Abstract dan Jurnal, Azhar mengatakan bukan tanpa alasan. Menurut Azhar dengan adanya karya dari para peserta, maka para peserta IWS 2017 juga akan menjadi panelis dan berkesempatan untuk menampilkan (mempresentasikan) karya mereka pada kegiatan ini.

Untuk diketahui kegiatan International Wildlife Symposium (IWS) sudah dilaksanakan sebanyak tiga kali, pertama di Universitas Andalas, Universitas Riau, Universitas Lampung dan keempat di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Konservasi satwa liar ini, lanjut Azhar, ada kaitannya dengan sumber penghidupan yang berkelanjutan, dan juga dapat memperkuat kesejahteraan masyarakat desa, terlebih desa penyangga. Dirinya menilai penting adanya keharmonisasi antar masyarakat yang tinggal berdampingan dengan hewan liar yang dilindungi seperti halnya gajah.

“Pada hari ketiga nanti ada agenda field trip ke salah satu daerah di Aceh. Di sana nanti para peserta simposium dapat melihat secara langsung, bagaimana kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dengan hewan liar ini. Diharapkan para peserta dapat memberikan solusi untuk membantu masyarakat agar hidup sejahtera bersama hewan-hewan yang hampir punah ini,” katanya.

Selain turut mengkampanyekan kekhasan satwa-satwa liar di Provinsi Aceh dengan empat spesies kunci (Harimau, Gajah, Badak dan Orangutan Sumatera), digelarnya kegiatan International Wildlife Symposium (IWS) ke 4 di provinsi Aceh juga menjadi ajang bagi pihak WWF Indonesia Northern Sumatra Program untuk menampilkan kontribusi yang selama ini dilakukan kepada berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri.

“Simposium ini diharapkan dapat menjadi media untuk saling tukar informasi di antara akademisi, peneliti dan konservasionis dalam rangka menghasilkan rekomendasi penting untuk keberlanjutan kehidupan liar dan ekosistem serta turut memperkenalkan Aceh dari sudut pandang lain seperti pariwisata, kuliner, budaya dan alamnya. []

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY