Menelusuri Labirin dan Sejarah Suram Lobang Jepang di Bukittinggi

214
Lorong yang berada di Lobang Jepang, Bukittinggi, Sumatera Barat. (Foto : Elsa Shafira)

*Liputan Elsa Shafira 

“TIDAK terhitung sudah ribuan orang tewas untuk membangun Lobang Jepang ini. Kami menyebutnya lubang, bukan goa. Karena lubang ini memang dibuat oleh Jepang pada masa penjajah dulu,” jelas salah satu pemadu wisata kepada para pengunjung.

Lobang Jepang adalah salah satu obyek yang wajib dikunjungi bila Anda bertandang ke Bukittinggi. Ini adalah gua bawah tanah yang dibangun oleh tentara Jepang saat menduduki Bukittinggi.

Lobang Jepang sendiri berada di Taman Panorama yang berada di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Jam Gadang yang berada di pusat kota. Jika jalan kaki hanya membutuhkan waktu kurang dari 15 menit.

Pintu masuk Lobang Jepang berada di Taman Panorama yang memiliki pemandangan ngarai cukup indah. Dengan membayar tiket masuk Rp5.000, kita bisa menyusuri gua sepanjang 1.470 meter ini.

Biasanya wisatawan akan ditemani pemandu yang akan menarik biaya sekitar Rp 60.000 dan akan keluar melalui lubang di ujung lain. Namun jika Anda tidak ditemani oleh pemandu, biasanya Anda perlu memberikan sedikit tips kepada mereka untuk membuka jika tidak ingin kembali ke pintu masuk dan melewati tangga yang mencapai 132 anak tangga.

Membawa pemandu lebih disarankan, agar kita tidak tersesat di lorong-lorong yang semuanya terlihat sama persis itu. Rasanya agak horor kalau kita sampai tersesat di lorong-lorong yang seperti labirin di dalamnya, apalagi bila membayangkan berbagai cerita yang beredar di masyarakat mengenai banyaknya pekerja romusha yang tewas di sana.

Menurut pemandu, lubang tersebut di buat atas instruksi Letjen Moritake Tanabe Panglima Divisi ke 25 Angkatan Darat Balatentara Jepang. Lubang perlindungan tersebut, konon mampu menahan letusan bom seberat 500 kg. Konstruksi lubang ini dikerjakan sejak Maret 1944 dan selesai pada awal Juni 1944 dengan total pembuatan selama kurang lebih 3 tahun dengan kedalaman mencapai 49 meter di bawah permukaan tanah.

“Untuk membangun lubang ini, Jepang mempekerjakan secara paksa orang-orang yang berasal dari Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Tidak ada orang Bukittinggi yang mengerjakan lubang ini untuk menjaga kerahasiaan. Orang sini malah dikirim ke wilayah lain seperti Bandung dan Pulau Biak,” jelas pemandu kepada pengunjung.

Seperti diketahui, Lobang Jepang di Bukittinggi merupakan salah satu lubang yang terpanjang di Asia mencapai lebih dari 6 kilometer dan beberapa tembus di sekitar kawasan Ngarai Sianok, Jam gadang yang terletak di samping Istana Bung Hatta, dan juga di Benteng Fort De Kock yang masuk di wilayah Kebun Binatang Bukittinggi.

Saat ditemukan pertama kali pada awal tahun 1950, pintu Lobang Jepang hanya 20 cm dengan kedalaman 64 meter. Lalu setelah dikelola dan dibuka secara umum oleh pemerintahan setempat pada tahun 1984, mulut lubang tersebut dibuat lebih nyaman untuk dilalui. Sayangnya dinding telah ditutup semen dan di bagian dalam juga banyak divariasikan untuk memasang panel listrik sehingga kehilangan bentuk aslinya.

Selain itu juga banyaknya coretan di dinding yang dilakukan oleh pengunjung yang tidak bertanggung jawab.

Dari pintu masuk, pengunjung harus menuruni 132 anak tangga menuju gua datar yang berada 40 meter di bawah permukaan tanah dan 40 meter di atas dasar Ngarai Sianok. Jalan masuk ini dulunya hanya seukuran ban mobil, karena dulunya merupakan lubang pengintaian, bukan pintu masuk. Tapi uniknya, udara di dalam gua terasa sejuk dan tidak pengap.

Kalau diperhatikan, dinding-dinding gua tersebut bentuknya tidak rata, melainkan bergelombang. Memang sengaja dibuat demikian untuk meredam gema. Pada masa lalu di cekungan-cekungan dinding itu banyak dihuni oleh kelelawar dan burung wallet, tapi sekarang tampaknya tidak ada lagi.

Tepat di dasar anak tangga, terdapat jalur utama yang memiliki 6 lorong di sisi kanan. Jalur ini masih sama dengan bentuk aslinya, hanya sudah dilapisi semprotan semen. Pemandu mengatakan, lapisan semen itu justru berbahaya, karena tidak menyatu dengan tanah di sekitarnya. Ketika terjadi gempa bumi, misalnya, yang rontok adalah lapisan semen tersebut, sementara struktur asli gua tetap utuh.

Konon, di jalur utama ini dulunya terdapat lubang panjang yang berfungsi sebagai jebakan jika ada musuh yang berhasil menyusup masuk. Disebut jebakan, karena di dalam lubang panjang tersebut tentara Jepang menanam banyak bambu runcing. Musuh yang masuk ke sana bisa dipastikan berakhir riwayatnya.

Sementara keenam lorong di sisi kanan jalur utama itu berfungsi sebagai tempat penyimpanan senjata. Semuanya sama persis bentuknya. Ada satu lorong yang dibiarkan seperti aslinya, yaitu memiliki ketinggian yang minim —seukuran tubuh orang Jepang masa itu yang umumnya pendek-pendek— sehingga kita harus berjalan membungkuk di dalamnya.

Jalur utama dulunya juga memiliki ketinggian yang sama. Tapi ketika dibuka sebagai tempat wisata pada tahun 1986 (gua ini ditemukan pada tahun 1946), telah dilakukan penggalian sekitar 0,5 meter agar orang dapat berjalan tegak di dalamnya.

Sambi menelusuri tangga, pemandu menceritakan untuk kebutuhan wisata, lorong Lobang Jepang yang dibuka hanya kurang dari 1,5 kilometer sehingga hanya membutuhkan paling lama 20 menit untuk sampai di ujung jalan. Sedangkan lubang yang mengarah ke Ngarai diberi teralis.

“Ada 21 lorong kecil yang fungsinya bermacam-macam mulai sebagai ruang amunisi, ruang pertemuan, pintu pelarian, ruang penyergapan serta penjara. Namun yang menyeramkan adalah ruang dapur yang juga difungsikan untuk memotong-motong tahanan yang sudah tewas lalu dibuang melalui lubang air ke bawah,” jelasnya.

Ruang dapur sendiri berada tepat di sebelah ruang penjara. pemandu menunjukkan lubang kecil yang berada di ujung bawah dapur. “Tahanan yang tewas akan dipotong-potong di meja itu lalu potongannya dibuang di lubang ini. Mengapa dipotong? Agar tidak nyangkut di lubang yang mengarah ke Ngarai Sianok sehingga jasadnya akan sulit ditemukan. Nah kalau bagian atas ini adalah menara pengintai, ” jelasnya sambil mengarahkan senter ke bagian atas.

“Memang sengaja ditutup dengan trali besi,” tambahnya.

Menurut pemandu, membuat dinding bergelombang untuk meredam gema memang sengaja diterapkan oleh jepang,  “Jadi jika ada tahanan yang disiksa maka suaranya ya hanya sebatas lorong ini saja. Lihat dindingnya. Jika terkena air maka akan semakin kuat,” jelas pemandu.

Lantas pemandu menunjukkan lubang penjara yang sudah ditutup bagian ujungnya. “Dulu di sini bukan hanya untuk memenjarakan mereka yang melawan dan tidak mau bekerja. Penjara ini juga berfungsi untuk memenjarakan perempuan-perempuan sebagai budak seks Jepang. Mereka tidak diberi makan berhari-hari sehingga banyak yang tewas,” jelasnya.

Selain terhubung dengan jalur-jalur utama, lorong-lorong itu masih terkoneksi dengan jalur-jalur sekunder, sehingga sesungguhnya setiap lorong di gua itu saling berhubungan secara rahasia. Membayangkan gua seluas itu dibangun oleh pekerja romusha, rasanya memilukan. Tentunya mereka saat itu tidak bekerja dengan peralatan memadai, bisa jadi mereka menggali dengan tangan. Makanan yang diberikan pun sangat tidak layak, sehingga banyak pekerja yang mati kelaparan atau mati karena sakit.

Pada saat gempa pun, Lobang Jepang tersebut terbukti kuat. Ia mencontohkan saat terjadi gempa beberapa waktu yang lalu hanya lapisan semen yang rontok, sedangkan kontur dindingnya tetap utuh. “Di dalam sini sekarang ada alat khusus yang mendeteksi jika ada gempa maka sinyalnya akan menyala. Hal ini untuk mengantisipasi keamanan pengunjung agar bisa segera di evakuasi,” katanya.

Pemandu juga bercerita saat belum dibuka untuk umum, masyarakat banyak menemukan tengkorak dan alat untuk membangun seperti cangkul. Termasuk juga peralatan makanan yang terbuat dari batok kelapa dan bambu. “Semuanya sudah dimuseumkan,” ujar pemandu.

Pada tahun 2001, pernah muncul kabar bahwa ada salah seorang pekerja romusha yang selamat dari sekapan gua dan muncul di Bukittinggi. Dia tak keberatan menceritakan tentang  seluk-beluk gua tersebut –yang ternyata cocok dengan data yang ada. Namun orang tersebut tidak mau diajak turun lagi ke gua. Bukan karena tubuhnya telah renta dan tidak mampu secara fisik, melainkan karena trauma akibat penyiksaan yang pernah diterimanya di sana.

Menyusuri lorong Lubang Jepang di Bukittinggi, tentu bukan untuk sekedar menguji nyali atau merasakan pengalaman mistis yang mendebarkan hati saja. Akan tetapi juga dalam rangka merekonstruksi sejarah. Betapa kemerdekaan yang sekarang ini kita nikmati adalah hasil pengorbanan harta, bahkan nyawa para pejuang dan pendahulu kita, bukan pemberian gratis penjajah Jepang.

Pendahulu kita telah mengalami penyiksaan yang kejam oleh tentara Nipon, bahkan mati karenanya. Ada baiknya ketika berkunjung ke tempat-tempat bersejarah tak lupa untuk memanjatkan doa bagi para pejuang kemerdekaan.

Ngarai Sianok yang berada tidak jauh dari tempat wisata sejarah Lobang Jepang, Bukittinggi, Sumatera Barat. (Foto : Elsa Shafira)

Bagi Anda yang penasaran dengan bunker peninggalan Jepang ini, bisa datang ke Sumatera Barat. Dari Padang Anda bisa langsung menuju kota Bukittinggi, dengan jarak tempuh 2 jam menggunakan mobil. Lokasinya berada di dalam Taman Panorama yang terdapat di wilayah Guguk Panjang, Kota Bukittinggi. Sangat mudah untuk sampai ke tempat ini, dari Jam Gadang dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 10 menit saja.

Selain Lubang Jepang, di Taman Panorama ini juga terdapat lembah raksasa yang sangat elok yang oleh masyarakat setempat diberi nama Ngarai Sianok. []

Liputan oleh Elsa Shafira (Traveller,)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY