Pragmatisme Harimau Sumatera Insitu Dan Eksitu

182
Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), yang di habitat alaminya di Pulau Sumatera jumlahnya saat ini kurang dari 400 individu. (WWF)

Oleh Azhar*

Secara ekologis, harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) membutuhkan habitat luas untuk terus bertahan hidup. Faktanya, saat ini hewan langka itu, langsung maupun tidak langsung, terus tertekan, dampak berkurangnya tutupan hutan di Sumatera. Sebaran populasi harimau ini dulu tersebar merata di seluruh Sumatera, kini hanya tersisa di wilayah tertentu.

Harimau Sumatera kini hidup dalam habitat tersekat-sekat; terbentuk kantung populasi kecil di blok-blok hutan, habitat harimau terkunci di antara kehidupan manusia. Saat fungsi hutan berubah untuk pembangunan infrastruktur, pertambangan dan perkebunan, kehidupan mereka juga semakin terkucil.

Idealnya jumlah populasi minimum per kantong habitat untuk semua jenis harimau adalah 300 ekor dewasa (Leyhausen, 1986). Namun tampaknya untuk kondisi habitat di Sumatera, pencapaian jumlah tersebut jauh dari harapan, mengingat keadaan populasi harimau terfragmentasi dalam kantong-kantong habitat yang kecil dan terisolasi. Saat ini, per kantong habitat hanya terdapat 36-170 ekor (Shepherd & Magnus, 2004).

Jumlah harimau Secara Insitu dan Eksitu

Di sisi lain, jumlah harimau Sumatera di alam semakin menurun. Kantong habitat hilang seiring dengan hilangnya hutan. Populasi harimau Sumatera menurun lebih dari 60 persen dalam tiga dasawarsa terakhir ini (1980 – 2007) menjadi sekitar 400 ekor harimau liar di alam (Strakohas, 2007).

Dalam catatan IUCN Red List disebutkan hanya tersisa sekitar 250 ekor harimau Sumatera, dengan satu kelompok tidak lebih dari 50 ekor dewasa (Nowell et al., 2003). Status populasi harimau Sumatera ini berada pada tingkat sangat mengkhawatirkan (IUCN, 2003). Banyak penafsiran dan asumsi soal angka, namun jelas sekali jumlah individu harimau di alam dipastikan terus menurun.

Lain halnya dengan harimau Sumatera yang berada di penangkaran /Captive tersebar di Dunia, jumlah data yang tercatat sejak tahun 1942-2000 mencapai 1.131 ekor,dengan tingkat kematian 650 ekor dengan jumlah yang hidup 500 ekor (Müller, 2001).

Jumlah harimau Sumatera yang ada di Indonesia tersebar di beberapa kebun binatang dan lembaga konservasi (kebun binatang, taman safari) di Indonesia berkisar 100 ekor (http://ksdae.menlhk.go.id), dapat disimpulkan bahwa harimau Sumatera yang hidup di luar hutan sumatera atau di penagkaran berkisar pada angka 600 individu. Secara umum angka populasi jumlah harimau dialam dan dipenangkaran / captive hampir seimbang, walau angka harimau di penangkaran /captive lebih tinggi.

Status populasi harimau Sumatera ini berada pada tingkat sangat mengkhawatirkan (critically endangered) (IUCN, 2003). Dengan demikian upaya-upaya konservasi baik secara in-situ maupun secara ex-situ dalam bentuk penangkaran telah menjadi bagian dari strategi penyelamatan dan upaya perbaikan habitat harimau.

Habitat harimau Sumatera di perantauan

Harimau tercatat dalam sejarah kebudayaan suku–suku di Sumatera. Hewan eksotik ini ditampilkan dalam banyak manifestasi. Dia disebut “Nenek” dan “Datok” di Sumatera Barat. Sebagian Sumatera bagian tengah menyebutnya “Sang Datok”. Di Aceh, hewan ini disebut “Nek” dan “Rimueng Daya” ataupun “Rimeung Aulia” sebagai raja hutan.

Harimau digambarkan sebagai makhluk kuat dan sarat mitos dan mistis. Keberadaan harimau punya arti khas tersendiri, tapi sosial budaya membuktikan belum mampu untuk menyelamatkan harimau dan sosial budaya belum mampu mencegah perusakan hutan. Keangkeran harimau digerus oleh kemajuan itu sendiri.

Harimau di alam semakin menyusut dan yang tertinggal hanya cerita sosial budaya yang hanya mengapresiasi harimau itu sendiri, faktanya hutan Sumatera pun terus tergerus oleh alih fungsi lahan, hutan berubah menjadi kebun sawit yang semakin luas. Tanpa ada langkah , harimau hanya menjadi simbol sejarah keruntuhan hutan alam Sumatera, harimau di alam hilang dan akan punah di tanah moyangnya.

Lainnya halnya harimau di perantauan atau harimau di penangkaran, khususnya harimau Sumatera yang berada di luar negeri, akan semakin bertambah jumlahnya,ini disebabkan karena penelitian dan upaya inovasi teknologi dalam pengembangan konservasi harimau Sumatera semakin canggih. Suatu saat nanti, harimau akan “berhabitat” di luar Sumatera, berada di benua lainnya seperti di kebun-kebun binatang Amerika Serikat, beberapa negara Eropa dan Australia. Kemampuan negara ini berinovasi dalam memperbanyak harimau di kebun binatangnya sangat mumpuni. Harimau Sumatera dipelajari dengan seksama hingga beranak-pinak dengan baik, angka populasi harimau di kebun binatang luar negeri semakin pesat dan akan terus meningkat jika dibandingkan dengan jumlah harimau di hutan Sumatera yang kian menyusut.

Suatu hari nanti, harimau Sumatera akan berganti nama ilmiah berdasarkan zoogeography akan menjadi harimau Amerika, harimau Australia dan Eropa, di mana puluhan tahun bahkan ratusan tahun ke depan habitat harimau akan dikelola secara baik di kawasan ini. Harimau Sumatera akan berubah secara alamiah, seiring perubahan kondisi geografis, di mana harimau itu dilahirkan di benua yang lain dan dapat hidup layak semestinya.

*) Penulis adalah pengamat satwa liar Aceh. Menetap di Lamprit, Banda Aceh.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY