Bank Dunia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi 5,1% tahun ini

105

Acehraya.co.id – Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,1% tahun ini. Proyeksi yang tercatat dalam laporan terbaru yang bertajuk Indonesia Economic Quarterly (IEQ) untuk edisi Oktober 2017 itu berubah dari proyeksi sebelumnya 5,2%.

Kepala Perwakilan Bank Dunia Untuk Indonesia Rodrigo A. Chavez menjabarkan, pihak juga melihat PDB riil Indonesia meningkat sebesar 5,0% yoy di triwulan ke II-2017. Pertumbuhan tersebut tidak berubah dari triwulan pertama kemarin.

“Tingkat pertumbuhan telah stabil sebesar sekitar 5% sejak triwulan ke I-2014, lebih rendah dari yang tercatat pada awal dekade ini. Walaupun tingkat pertumbuhan ini menempatkan Indonesia di antara negara-negara besar yang pertumbuhannya paling cepat di dunia,” tuturnya di Energy Building dalam acara Indonesia Economic Quarterly Closing The Gap di Energy Building, Jakarta, Selasa (3/10/2017).

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan catatan tersebut, seperti pertumbuhan konsumsi swasta secara yang tidak terduga tetap sama.

Kendati begitu, Rodrigo mengatakan bahwa terdapat pertumbuhan lapangan kerja yang tinggi. Pada Februari tahun ini sebanyak 4 juta lapangan pekerjaan tercipta, lalu ada kenaikan gaji sebanyak dua digit.

“Lalu kepercayaan konsumen yang tinggi, menurunnya inflasi harga pangan, nilai Rupiah yang stabil, dan beralihnya periode Idul Fitri ke triwulan kedua tahun ini yang biasanya menyebabkan adanya lonjakan konsumsi,” imbuhnya.

Sementara itu, konsumsi Pemerintah mengalami kontraksi dari tahun sebelumnya. Sebagian mencerminkan base effect dari peningkatan belanja barang yang besar di triwulan kedua tahun lalu, ditambah dengan hari kerja yang lebih sedikit di triwulan kedua.

Rodrigo mengingatkan tidak adanya percepatan pertumbuhan menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Mengingat lingkungan eksternal dan momentum reformasi kebijakan domestik yang baik.

Melihat kondisi yang ada, pertumbuhan PDB riil tahun ini diperkirakan mencapai 5,1%. Tidak adanya peningkatan dalam pertumbuhan di triwulan kedua, terutama konsumsi sektor swata merupakan permasalahan yang memerlukan data dan analisis lebih lanjut.

Dari sisi kebijakan fiskal dan moneter, Bank Dunia melihat adanya upaya merespon momentum pertumbuhan dengan kebijakan yang menstimulasi perekonomian namun tetap berhati-hati (prudent).

“Revisi anggaran 2017 yang baru-baru ini disetujui oleh DPR menetapkan defisit fiskal yang lebih tinggi sebesar 2,9% dari PDB, naik dari 2,4% dalam APBN tahun 2017, terutama karena kenaikan pengeluaran, termasuk subsidi karena adanya penundaan penghapusan subsidi listrik,” tambahnya.  [detikcom]

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY