KPH III dan WWF Indonesia Kerjasama Lindungi Kawasan Hutan Samarkilang Yang Miliki Biodiversiti Tinggi di Aceh

435

Banda Aceh – Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah III dan WWF Indonesia menandatangani kesepakatan kerjasama untuk melakukan pembinaan habitat satwa langka di kawasan hutan Samarkilang, Kabupaten Bener Meriah, paska ditemukannya banyak satwa langka masih hidup di kawasan ini. Hutan Samarkilang yang dilindungi luasnya mencapai 89 ribu hektar, berada di bagian utara Ekosistem Leuser di Propinsi Aceh.

Penandatangan kerjasama ini dilakukan di Aula Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh di Banda Aceh, Kamis (1/2/2018) antara Kepala KPH Wilayah III, Darmi dan Manager WWF Indonesia, Dede Suhendra. Hadir dalam acara ini Kepala DLHK Saminuddin B Tou, Direktur Program Sumatera-Ujung Kulon WWF Indonesia, Suhandri, Asisten II Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, Wakil Ketua Komisi II DPR Aceh, Kepala BKSDA Aceh dan tokoh masyarakat Samarkilang. Dalam kesempatan ini turut dilantik tim patroli masyarakat untuk perlindungan satwa yang dinamakan Tim Kule Patrol Samarkilang.

Kepala DLHK Aceh, Saminuddin B Tou dalam sambutannya menyampaikan keprihatinannya karena sejumlah satwa di Aceh saat ini mendekati kepunahan. Intensitas konflik satwa manusia yang tinggi menjadi indikator bahwa hutan Aceh saat ini sedang bermasalah.

“Kami bekerjasama dengan WWF untuk melestarikan 4 spesies kunci sumatera yang terancam punah di Samarkilang,” kata Saminuddin.

Direktur Program Sumatera-Ujung Kulon WWF Indonesia, Suhandri menyatakan upaya perlindungan hutan Samarkilang merupakan upaya WWF Indonesia untuk membantu Pemerintah Aceh melestarikan satwa-satwa langka yang hidup di dalamnya, melindungi hutan sebagai hulu sumber air bersih bagi masyarakat dan juga sebagai sumber matapencaharian masyarakat.

“Hasil temuan selama beberapa tahun ini secara menakjubkan Kawasan Hutan Samarkilang masih spesies langka Sumatera yakni orangutan harimau, badak dan gajah. Kami mendorong kawasan hutan Samarkilang dilindungi secara khusus di Aceh,” kata Suhandri.

Atas dasar temuan ini maka KPH III dan WWF Indonesia sepakat untuk melindungi kawasan hutan Samarkilang melalui kerjasama pembinaan habitat yang melibatkan masyarakat setempat dalam bentuk kegiatan patroli pengamanan hutan, melakukan melakukan survei pemantauan pergerakan satwa, melakukan mitigasi konflik satwa dan manusia, dan melakukan kegiatan pendidikan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat untuk ikut peduli dalam perlindungan hutan dan satwa.

Inisiatif perlindungan Samarkilang sebagai kawasan perlindungan khusus satwa di Aceh diajukan oleh WWF Indonesia setelah lembaga yang bergerak di bidang konservasi lingkungan ini melakukan survei secara intensif sejak 2013 bersama sejumlah intansi seperti KPH III, BKSDA Aceh dan masyarakat setempat.

Kamera jebak yang dipasang telah menemukan 31 spesies satwa sebagian besar sudah langka dan terancam punah masih hidup bersama-sama di hutan Samarkilang. Ada harimau, macan dahan, kucing hitam, kucing emas, beruang madu, telegu singgung, beruang madu, angjing hutan, rusa sumatera, termasuk berbagai jenis burung. Selain itu ditemukan tanda-tanda keberadaan badak sumatera melalui bekas jejak dan tempat berkubang aktif.

Lokasi survey merupakan hutan hujan tropis yang didominasi pohon-pohon raksasa dari jenis Dipterocarpaceae dengan ketinggian sekitar 800 – 1200 meter di atas permukaan laut. Saat ini hutan Samarkilang terdiri dari hutan lindung, hutan prodksi dan areal penggunaan lain.

Hutan Samarkilang berbatasan dengan Samar Gadeng Kabupaten Bener Meriah di sebalah utara, sebelah selatan berbatasan dengan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, sebelah barat berbatasan dengan Krueng Muara Kabupaten Aceh Utara, sebelah timur berbatasan dengan Serbajadi Kabupaten Aceh Timur.

Upaya melindungi Samarkilang perlu didorong bersama-sama karena selain menyimpang kekayaan satwa dan tumbuhan, hutan ini juga merupakan hulu bagi sungai-sungai yang mengalir di DAS Jambo Aye yang meliputi kabupaten Aceh Utara, Bener Meriah dan Aceh Timur.

Jika hutan dirusak maka akan rentan menjadi bencana. Dulu hutan Samarkilang merupakan kawasan konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) PT Gruti dan Raja Garuda Mas. Paska HPH tutup sejak 2000, sekarang kondisi hutan Samarkilang mulai pulih kembali ditandai dengan pohon-pohon besar sudah banyak ditumbuhi, kehadiran satwa liar di sana, yang membentuk iklim mikro yang akan bermanfaat sebagai pelindung hidrologis.

Hutan Samarkilang dapat dijangkau dari Samarkilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah. Kecamatan ini memiliki 11 desa dengan penduduk mencapai 1800 jiwa. Kehidupan orang Samarkilang sangat tergantung dengan hasil hutan, seperti madu, jernang, getah candan, rotan dan berburu satwa serta menangkap ikan di sungai. Perjalanan menuju Samarkilang ditempuh dengan perjalanan darat selama 2 jam dari kota Simpang Tiga Redelong. Di musim penghujan, jalan menjalan sulit karena berlumpur tebal.

WWF Indonesia dan Pemerintah Aceh telah melakukan berbagai kegiatan untuk memperkuat upaya perlindungan Samarkilang sebagai rumah satwa spesies kunci Sumatera yang terancam punah seperti orangutan sumatera, gajah sumatera, harimau sumatera dan badak Sumatra. Selain melakukan survey rutin untuk memantau kondisi satwa, WWF juga melah melakukan upaya pendampingan pendidikan lingkungan untuk sekolah di Samarkilang melalui program Education Sustainable Development. WWF juga membentuk tim masyarakat untuk patroli satwa liar yang disebut Tim Kule Patrol. Ke depan upaya WWF juga akan mengembangkan produk hasil hutan non kayu. Sehingga masyarakat memiliki altenatif matapencaharian yang tidak berdampak negatif pada kawasan hutan Samarkilang. []