Elephantastic Run: Belari Bersama Chicco Jerikho Menyuarakan Pelestarian Gajah Sumatera

287
© WWF-Indonesia

Acehraya.co.id – Chicco Jerikho nampak takjub melihat pemandangan di hadapannya. Kunjungan pertamanya ke Peusangan, Aceh pada medio Agustus 2017 silam disuguhi dengan hamparan hutan nan hijau yang nampak dari perbukitan tempatnya berdiri. Di situlah Gajah Sumatera, satwa kharismatik yang sangat dicintainya tinggal.

Pemandangan itu membawa kenangannya pada masa kecil ketika sang ibu membacakan dongeng tentang gajah. Sejak saat itulah, ia mulai jatuh hati pada gajah. Kecintaannya pada satwa berbelalai panjang tersebut bahkan membawanya ke Aceh untuk merayakan Hari Gajah Sedunia dan melihat populasi gajah terbesar di Sumatera. Namun hamparan hutan di hadapannya menyimpan fakta yang membuatnya prihatin.

“Kawanan gajah liar sering masuk ke desa karena rumah mereka sudah berubah menjadi pemukiman atau perkebunan kelapa sawit,” tutur warga Desa Pintu Rime dan Karang Ampar yang saat itu dijumpai Chicco. Nampaknya peristiwa-peristiwa tersebut memicu timbulnya konflik gajah-manusia. Di rumahnya yang makin sempit, gajah-gajah itu tak dapat lagi menemukan makanannya. Mereka pun mencari sumber pakan baru. Dan dari situlah, konflik dimulai. Korban berjatuhan, tak hanya dari sisi manusia, tetapi juga sisi gajah.

Rasa sedih dan prihatin bergejolak dalam diri Chicco. Merasa tak bisa tinggal diam melihat kenyataan itu, ia mencari jawaban tentang solusi apa yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan gajah-gajah Sumatera di Aceh dan mencegah konflik gajah-manusia. Melalui diskusi bersama WWF-Indonesia, Balai Syura Ureung Inong Aceh (BSUIA), dan Forum DAS Krueng Peusangan (FDKP) ketika berada di sana, ia mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa manusia harus hidup berdampingan secara harmonis dengan alam dan hidup berbagi tempat tinggal adalah solusinya.

Untuk mengurangi dampak negatif gajah-manusia, masyarakat di Pintu Rime dan Karang Ampar dengan pendampingan dari WWF berencana untuk menanam tanaman pakan gajah dan pohon pembatas antara pemukiman warga dan hutan. Tanaman pakan gajah dan pohon pembatas tersebut akan berfungsi sebagai “pagar” sehingga kawanan gajah tak akan memasuki pemukiman dan perkebunan warga. Sebaliknya, warga juga akan diedukasi supaya tidak terlalu sering ke hutan habitat gajah agar satwa tersebut dapat hidup dengan damai. Pohon yang ditanam di sekeliling hutan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

Demi mewujudkan hal tersebut, Chicco berniat mengerahkan sekuat tenaga untuk mendukungnya. Ia ingin meningkatkan kepedulian publik terhadap nasib Gajah Sumatera dan menggalang dana melalui ajang lari internasional, London Marathon pada 22 April mendatang. Melalui lari, ia juga mengajak publik untuk turut berdonasi dalam program penanaman tanaman pakan dan pohon penghalang yang dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat sekitar area jelajah Gajah Sumatera.

Publik dapat turut berlari pada 21-23 April 2018 melalui event Virtual Elephantastic Run. Registrasi dapat dilakukan di virtualrun.id dengan biaya pendaftaran sebesar Rp100.000,- yang keseluruhannya akan didonasikan untuk program konservasi Gajah Sumatera.  Para pelari dapat berlari atau berjalan sejauh minimal 5 kilometer di mana pun dan kapan pun pada 21-23 April 2018. Pendaftaran dibuka hingga 23 April 2018. [Natalia Trita Agnika]

We can protect those fantastic animals through Virtual Elephantastic Run.

virtualrun.id/elephantastic-run